Hipokrit
Dalam kamus Oxford
Advanced Learner's, kata "Hypocrite" didefinisikan sebagai "a person who
pretends to have moral standards or opinions that they do not actually
have (hipokrit adalah orang yang berpura-pura mempunyai standard
moral atau pandangan yang sebenarnya tidak dimilikinya). Dengan bahasa
sederhana, hipokrid dapat diertikan sebagai orang yang antara apa yang
dikatakannya berzeda dengan perbuatan aktualnya. Jiwa atau figur
manusia hipokrit, dalam pandangan ilmu jiwa modern, adalah jiwa yang
sedang sakit. Pada dirinya seolah-olah terbelah dua jiwa yang saling
bertikai dalam satu tubuh. Jiwa yang satu menggambarkan dirinya
berdasarkan penampilan (luar)nya, yang boleh terlihat
dan terdengar oleh orang lain, misalnya pakaian, perkataan dan senyumannya. Jiwa yang lain adalah mencerminkan sifat dalamannya, yang
tak dapat diketahui oleh siapapun. Akibat pertikaian jiwa kepribadian
ini, seorang yang hipokrit akan menampakkan profil kepribadian negatif
yang akan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Paling sedikit ada
tiga ciri atau sifat orang yang hipokrit, sebagaimana diuraikan secara
singkat.
Tidak Amanah
Seorang yang hipokrit bukanlah orang yang amanah, baik dengan dirinya sendiri terlebih lagi dengan orang lain. Ia mendustai dirinya sendiri agar orang lain menerima atau menghargainya. Terlintas niat di hatinya ingin mendustai dan memperdayai orang lain, padahal ia telah mendustai dirinya sendiri. Dalam realiti yang sebenarnya, ia tidak sanggup memperdayai siapapun. Iapun sudah pasti tidak punya daya dan kekuatan sedikitpun untuk memperdayai Sang Pencipta, yang Maha Tahu apa saja yang "tertulis" dalam hati manusia. Pertentangan antara apa yang dikatakan dengan yang dikerjakannya inilah yang justru akan membongkar "kedok" di mata orang banyak mengenai hakikat siapa dirinya sebenarnya, walau sebagaimanapun ia berusaha menyamarkannya atau menyembunyikannya.
Tidak Amanah
Seorang yang hipokrit bukanlah orang yang amanah, baik dengan dirinya sendiri terlebih lagi dengan orang lain. Ia mendustai dirinya sendiri agar orang lain menerima atau menghargainya. Terlintas niat di hatinya ingin mendustai dan memperdayai orang lain, padahal ia telah mendustai dirinya sendiri. Dalam realiti yang sebenarnya, ia tidak sanggup memperdayai siapapun. Iapun sudah pasti tidak punya daya dan kekuatan sedikitpun untuk memperdayai Sang Pencipta, yang Maha Tahu apa saja yang "tertulis" dalam hati manusia. Pertentangan antara apa yang dikatakan dengan yang dikerjakannya inilah yang justru akan membongkar "kedok" di mata orang banyak mengenai hakikat siapa dirinya sebenarnya, walau sebagaimanapun ia berusaha menyamarkannya atau menyembunyikannya.
Senang Menyebar Fitnah
Ada analisis kejiwaan yang berusaha mengetahui profil orang yang hipokrit. Diperoleh hasil bahwa kepribadian orang hipokrit saling berkonspirasi dengan tabiatnya sendiri. Ia dianggap bertindak dalam kegelapan. Perkataannya dapat menimbulkan dan menyebarkan kebohongan serta fitnah. Dengan menggunakan berbagai pendekatan yang samar, terselubung, sistematis, teroganisir, dan menunggu tepat waktu, ia terus berusaha agar diakui benar, dapat diterima, dan dihargai orang lain. Ia akan gelisah melihat orang lain melebihi dia dan memperoleh sesuatu kebaikan/keuntungan. Demi untuk tujuan pribadi yang bersifat material atau duniawi, ia sanggup menyebar fitnah dan isu-isu negatif orang lain.
Bersifat Ulitarian
Kepribadian seorang hipokrit layaknya sosok pribadi yang "ulitarian"-suka mengambil keuntungan-mengingat ia bermain pada dua korelasi. Ia berusaha untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dari keduanya. Sikaf ambivalen atau plin-plan serperti inilah yang selalu diambil oleh orang-orang hipokrit sepanjang masa. Kemunafikan ini mempunyai rupa dan jenis yang sangat variatif (berbeda-beda) yang jumlahnya tak terbilang. Di antara yang paling menonjol adalah sifat "cari muka", yaitu mendekati orang lain, terutama orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan dengan cara dimurkai Tuhan. ia berusaha membuat orang-orang tersebut merasa senang. Misalnya, memuji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka miliki dan membungkuk-bungkukkan diri di hadapan mereka. Tujuannya adalah untuk mengharapkan "imbalan" yang lebih menguntungkan.
Pemicu utama munculnya sifat hipokrit ini, misalnya "cari muka", sebagaimana dituturkan pakar ilmu jiwa, adalah karena takut dan tamak. Mencari muka merupakan penyakit jiwa dan sosial yang berkembang subur bagaikan wabah penyakit di tengah masyarakat dalam era/masa kemunduran. yaitu masa di mana banyak orang yang malah menjauhi dan mengendorkan pegangannya terhadap agamanya. hal ini tidak lain disebabkan lemahnya keimanan, rasa takut dan ingin lari dari kenyataan...


